Aliansi Rakyat Wonosobo Kecam Keras Tindakan Brimob dalam Kasus Driver Ojol yang Tewas

TIMESINDONESIA, WONOSOBO – Tragedi meninggalnya Affan Kurniawan (21), driver ojek online yang tewas setelah dilindas kendaraan taktis Brimob saat demonstrasi di Jakarta pada 28 Agustus lalu, memicu gelombang kemarahan publik.
Di Wonosobo, sejumlah masyarakat dan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Wonosobo Bersatu (ARWB) menyuarakan kecaman keras terhadap tindakan aparat yang dinilai brutal dan tidak manusiawi.
Advertisement
Dalam keterangan salah satu resminya, mereka menegaskan bahwa aparat kepolisian telah melanggar hak konstitusional warga negara.
“Brutalitas aparat dalam mengawal proses demokrasi rakyat yang meletus di berbagai daerah kembali terjadi. Padahal, menyampaikan pendapat di muka umum dan berserikat merupakan hak konstitusional warga negara tanpa terkecuali,” tulis ARWB dalam press releasenya, merujuk pada Pasal 2 ayat (1) UU No. 9 Tahun 1998 dan Pasal 28E ayat (3) UUD 1945.
Aliansi ini juga menilai bahwa gelombang demonstrasi di berbagai daerah adalah bentuk kemarahan kolektif atas kegagalan negara dalam menjamin kedaulatan rakyat.
“Meletusnya aksi massa di berbagai daerah merupakan refleksi kemarahan, kekecewaan, serta kemuakkan rakyat pada seluruh aparatus negara yang tidak mampu menjamin kedaulatan rakyat seutuhnya,” tegas ARWB dalam keterangan tertulisnya tersebut.
Sebagai bentuk solidaritas dan protes atas tewasnya Affan serta sejumlah kebijakan yang tak memihak rakyat, ARWB menyampaikan delapan tuntutan utama, yaitu :
1. Mengadili dengan setimpal polisi yang menyebabkan kematian Affan Kurniawan.
2. Membubarkan DPR dan membentuk Dewan Rakyat.
3.Melakukan reformasi menyeluruh pada institusi kepolisian.
4. Menggagalkan proyek penulisan sejarah RI yang dinilai bermasalah.
5. Menolak pengesahan UU TNI, RKUHP, dan RKUHAP.
6. Menuntut transparansi gaji anggota DPR.
7. Menolak rencana kenaikan gaji DPR.
8. Membebaskan seluruh massa aksi yang ditangkap.
Korlap ARWB, Memet, menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengawal proses hukum hingga ada kejelasan dan keadilan bagi keluarga korban.
“Affan hanyalah rakyat biasa yang kebetulan berada di lokasi saat tragedi terjadi. Tindakannya bukan kriminal, tapi nyawanya melayang. Kami mendesak aparat untuk membuka kasus ini secara transparan, bukan sekadar permintaan maaf,” ujarnya Sabtu, (30/8/2025).
Aliansi Rakyat Wonosobo Bersatu menegaskan bahwa tragedi ini adalah alarm bagi pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menghentikan praktik kekerasan terhadap rakyat.
“Kemarahan rakyat di jalanan merupakan kejujuran paling suci atas bobroknya tata kelola negara. Jangan sampai kematian Affan hanya menjadi angka tanpa makna,” pungkas Memet dalam wawancaranya.(*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Imadudin Muhammad |
Publisher | : Ahmad Rizki Mubarok |