Peristiwa Daerah

Kesenian Jidor Sentulan: Warisan Unik Dakwah Islam dari Tahun 1820-an

Minggu, 31 Agustus 2025 - 10:15 | 7.47k
Bersama Satim, Pimpinan Jidor Sentulan saat menunjukkan properti utama Jepaplok di Kediamannya. (Foto: Della Nur Khofifah/TIMES Indonesia)
Bersama Satim, Pimpinan Jidor Sentulan saat menunjukkan properti utama Jepaplok di Kediamannya. (Foto: Della Nur Khofifah/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JOMBANG – Kesenian rakyat Jidor Sentulan menjadi salah satu warisan budaya unik yang masih bertahan hingga kini di Kabupaten Jombang. Berawal sekitar tahun 1820-an, kesenian ini mulanya hadir sebagai media dakwah Islam di tengah masyarakat yang kala itu sulit menerima ajaran agama.

Menurut penuturan Satim, pimpinan Jidor Sentulan saat ini, kesenian tersebut dibawa oleh dua orang bersaudara asal Jawa Tengah. Dari tangan merekalah, bentuk awal lahir, lengkap dengan tokoh utama bernama Jepaplok, sosok yang digambarkan seperti harimau menyerupai naga dengan hiasan merak di bagian kepala.

Advertisement

“Dulu membuat Jepaplok ini dua, salah satunya pindah ke Jember, kakaknya. begitu jadi, dibawalah ini, tapi sekarang di sana katanya sudah tidak jalan,” jelas Satim saat ditemui dirumahnya, Sabtu (30/8/2025). 

Tokoh dalam Jidor Sentulan

Kesenian ini memiliki sejumlah tokoh dengan peran masing-masing. Empat tokoh utama adalah Kumbang Semendung (jepaplok berkepala merak), Mbah Wiroguno berupa genderuwo yang selalu membawa parang, serta sepasang tokoh kocak Penthul dan Tembem, yang diyakini mewakili dua perintis kesenian Jidor di awal mula.

Kesenian-Jidor-Sentulan-b.jpg

Selain itu, ada pula tokoh tambahan yang tak kalah menarik, seperti Grandong dengan sosok menyerupai kingkong, macan kuning, macan putih, kera, Mak Lampir, hingga banteng. Kehadiran beragam karakter tambahan tersebut digunakan untuk meramaikan Jidor Sentulan.

“Tambahan itu, aslinya ya itu saja. Penthul, Tembem, jepaplok namanya Kumbang Semendung, sama Wiroguno,” ujar Satim.

Perpaduan Budaya dan Antusiasme Masyarakat

Keunikan Jidor Sentulan juga tampak dari prosesi ritualnya. Dalam setiap pertunjukan, iringan musik terbang jidor dipadu dengan lantunan salawat, memberikan suasana religius. Tak jarang, aroma kemenyan ikut mewarnai jalannya acara sebagai bagian dari transisi budaya, dari tradisi animisme menuju keyakinan Islam.

Meski penuh makna dan sejarah, kesenian ini terpelihara oleh masyarakat Sentulan sendiri. Justru antusias dan keseriusan dari masyarakatlah yang membuat Jidor Sentulan tetap eksis hingga saat ini. Tidak terlepas dari perintis kesenian, pemimpin generasi berikutnya juga sangat berjasa dalam mengembangkan. 

Nama-nama pemimpin yang pernah mengawal kesenian ini di antaranya Wardi, Mbah Sayun, Slamet, hingga akhirnya Satim yang dipercaya memimpin sejak 2003 hingga sekarang.

Biasanya, Jidor Sentulan ini tampil dalam acara khitanan, sedekah bumi, hingga peringatan HUT RI. Bahkan, mereka sempat tampil di luar kota seperti Lamongan dan Surabaya. 

“Dulu juga pernah ikut ke Surabaya, lupa tahun 90-an. Tapi kalah, karena ya pada bagus-bagus lainnya, sedangkan di sini lusuh,” tambah Satim.

Meski zaman terus berubah, kesenian ini tetap bertahan dan dimainkan di berbagai kesempatan. Bagi masyarakat, kesenian ini untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus menjaga nilai-nilai spiritual. Kesenian tradisi memiliki peran besar dalam membentuk budaya, sekaligus menjaga ikatan spiritual masyarakat di tengah perkembangan zaman. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES